Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts

Wednesday, January 18, 2012

Bayangan Ibu Diatas Kapal

“Bangun nak!” seketika suara ibuku membangunkanku dari tidurku.


Wajahnya sekilas muncul dihadapanku, sebelum lenyap seiring dengan penglihatanku yang mulai mengenali situasi sekeliling. Tentu saja ini hanya mimpi. Aku bukan berada dirumah sekarang. Bukan dikamarku yang nyaman dengan spring bed dan selimut yang hangat. Sayup-sayup aku mendengar suara genset di deck bawah. Mesin kapal tampaknya tidak beroperasi, pertanda bahwa kami sudah sampai ditujuan. Lorong kapal dan tempat tidur penumpang tampak lengang, padahal beberapa saat lalu, kapal penuh sesak oleh puluhan orang dewasa, anak-anak dan bayi. Kini hanya beberapa orang yang tersisa, sebagian tidur di ujung deck, sisanya aku dan Erry, teman seperjalananku, dan 2 orang wanita, ibu dan anak remajanya yang tidur diseberang kami.


Aku melirik jam tangan dan menekan tombol light, disituasi remang-remang seperti ini, jam tangan digital sangat berguna. Jam menunjukkan pukul 2 malam, dan kami harus menunggu setidaknya hingga pukul 6 pagi untuk keluar dari kapal dan mencari penginapan. Pemilik kapal sangat berbaik hati membiarkan kami, para penumpang yang tiba di tujan terakhir di hulu Mahakam untuk bermalam, jika tidak, maka pukul 12 malam ketika kapal sampai di dermaga Long Bagun, kami harus turun dari kapal.


Dua hari dua malam berada diatas kapal menuju hulu Mahakam membuat aku terbiasa mencium aroma kayu lembab yang mengingatkanku pada lemari tua ibu. Lemari yang disimpan digudang, yang berisi pakaian-pakaian yang sama tuanya dengan lemari itu. Ayahku hampir membuang lemari itu jika ibuku tidak melarangnya.


Aku lalu berbalik badan menghadap ke kiri, membelakangi Erry yang tertidur lelap. Kami sempat menyisakan satu ruang penumpang diantara kami untuk meletakkan beberapa barang kami. Tak jauh dari hadapanku, aku melihat sesosok pria berbaring menghadapku. Penerangan diatas kapal sebenarnya cukup untuk mengenali semua penumpang, hanya saja lampu yang tepat berada diatas kami mati, sementara lampu di ujung lorong dibiarkan menyala, entah dengan alasan apa, seseorang nampaknya telah mematikannya begitu saja setelah kapal tiba di pelabuhan terakhir. Dalam hati aku bersyukur, karna memudahkan aku untuk terlelap.


Fikirankupun melayang-layang memikirkan hal-hal apa yang akan kami lakukan ke esokan hari, dimana kami menginap, akan mengunjungi desa apa, dan lain sebagainya. Ada perasaan cemas yang menyelinap di sudut pikiranku. Bagaimana jika kami tidak menemukan penginapan, bagaimana jika besok hujan seharian, bagaimana jika kami bertemu orang yang berniat jahat, dan bagaimana-bagaimana lainnya yang semakin membuatku bergidik. Dan ternyata fikiranku tak salah.


Pria yang berbaring tak jauh dariku tiba-tiba mengangkat sebagian tubuhnya, dengan posisi terduduk dia masih menghadap kearahku. Aku sangat yakin dia tidak bisa melihat wajahku, dan mengira aku sedang tertidur. Jantungku mulai berdetak. Bayang-bayang ibuku terlintas cepat. Aku membatu, menggigit bibirku, berharap bahwa pria tersebut hanya terbangun dari tidur, menyadari bahwa dirinya masih berada diatas kapal, lalu mencoba melanjutkan tidurnya kembali, persis seperti yang aku alami saat ini.


Ia lalu bangun, melangkah pelan-pelan menuju kearahku. Sangat pelan, mengendap-endap layaknya pemburu malam yang ingin menangkap mangsanya ketika sedang terbuai angin malam. Walau demikian, langkah kakinya masih dapat menimbulkan bunyi halus dilantai kayu, sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah, aku mendengar bunyi halus itu mendekatiku dan akhirnya berhenti tepat didepanku.


Sekejab kemudian aku membalik badanku pelan-pelan sambil mengeluarkan suara erangan halus, aku tak ingin pria itu menyadari bahwa aku terjaga sebelum aku mengetahui niat dari tindakannya. Menyadari aku berbalik badan, ia lalu mematung, tak bergeming, seakan-akan mencoba berharap bahwa aku tak menyadari kehadirannya yang saat ia berada tepat dihadapanku. Sesaat aku bisa mendengar detak jantungku yang berdegup kencang, aku semakin menggigit bibirku. Ingin rasanya aku berteriak agar Erry terbangun hingga aku tak menghadapi kejadian ini sendirian. Tapi aku masih bertahan dalam diam, walau didalam batinku terjadi perang luar biasa, dan bayangan ibuku semakin berkelebat.


Beberapa detik dalam hening itu terasa bagai penantian maut yang tak jelas ujungnya. Apa yang terjadi berikutnya? Apa yang akan aku lakukan kemudian? Siapa pria ini? Apa maksudnya? Pertanyaan-pertanyaan itu menusuk-nusuk fikiranku.


Pria itu lalu secara perlahan mencoba merebahkan dirinya diantara kami, ruang kosong diantara aku dan Erry memang cukup untuk satu penumpang untuk tidur.


“Erry, bangun!” teriak ku dalam hati, ya, dalam hati. lidahku kelu..nafasku mulai tak teratur, tubuhku bergetar, detik itu aku layaknya patung es yang tak kuasa melakukan apapun, sementara pria itu sudah meletakkan sebagian tubuhnya diantara kami.


Ada beberapa pilihan yang sekiranya bisa aku lakukan saat itu, entah berteriak, menendang atau melempar sesuatu ke arah pria itu. Dan akhirnya kata yang keluar dari mulut sebelum pria itu sukses berbaring diantara kami adalah “Ngapain disini mas?.” Dalam hati aku mengumpat ke diriku sendiri, orang macam ini tak layak diberi kalimat basa-basi.


Pria itu lantas terkesiap, lalu melompat dan secepat kilat meluruskan tubuhnya dan berdiri ditengah-tengah lorong. Aku bisa merasakan kepanikan dirinya. “Eh..aku..aku…mau ngumpulin gelas” katanya dengan suara terbata-bata. Rupanya pria ini adalah seorang anak buah kapal.

“Kami ga pake gelas kapal” hardikku dengan suara lantang. Aku melirik Erry yang rupanya terbangun mendengarku.


“Mbak turun dimana?” tanyanya ke Erry, mencoba mengalihkan pembicaraan dan perhatianku, entah dimana akal sehat pria itu.


“Turun di sini, di Long Bagun, tapi nanti pagi kami baru turun” kata Erry yang aku yakin saat itu sedang bertanya-tanya tentang apa yang terjadi.


“Oo..” kata pria itu seraya berlalu menuju tangga ke deck bawah dan menghilang.


Aku lalu menceritakan kejadian sebelumnya ke Erry. Ia sangat terkejut lalu segera memindahkan barang-barang kami dan lalu tidur berdekatan. Aku menemukan saklar lampu dan menyalakannya, sebelum membangunkan ibu dan anak perempuan remajanya yang tidur diseberang kami dan memberi pesan agar berhati-hati dan waspada.


Dengan berbagai pertimbangan, kami akhirnya sepakat untuk tidak menceritakan kejadian tersebut ke nakhoda kapal. Diantara pertimbangan tersebut adalah dengan berharap mendapatkan karma baik untuk sisa perjalanan kami yang masih panjang, dan bersyukur tak (sempat) terjadi hal buruk menimpa kami. Dan hingga saat aku menulis ini, bayangan ibuku masih saja berkelebat setiap aku mengingat kejadian tersebut.

Read More..

Friday, July 02, 2010

Tupai Bus

Ada beberapa hal unik selama saya traveling ke beberapa negara di eropa tahun lalu. Satu diantarnya adalah pengalaman dengan transportasi. Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa perancis adalah negara pertama yang mempelopori angkutan umum sejak 300 tahun lalu. Berawal dari sebuah gerbong yang ditarik oleh kuda, hingga kini berkembang menjadi kereta super cepat. Tak heran bila negara ini memiliki sistem transportasi yang jauh lebih unggul dari negara lainnya. Bagi pelancong dari negara dunia ketiga seperti saya, yang sudah terbiasa dengan angkot sesak, lalu lintas yang semrawut dan polusi udara, sistem transportasi di eropa benar-benar membuat saya berdecak kagum.





Stasiun kereta Tours

Dimulai dari bus yang sangat nyaman (bentuknya hampir mirip dengan busway di jakarta), penduduk setempat yang hampir semua memiliki kartu transportasi prabayar, hanya tinggal memindai kartunya pada alat yang terdapat di dekat pintu masuk bus. Sedangkan bagi yang tak memiliki kartu dapat membayar sesuai tarif pada supir bus, lalu pak supir akan memberikan struk yang bisa digunakan untuk perjalanan bus berikutnya dalam rentang waktu 1 jam. Dan struk inilah yang meninggalkan kesan unik yang pernah saya rasakan selama tinggal di kota Tours, Perancis.

Saya tinggal di homestay yang jaraknya sekitar 15 menit jalan kaki untuk mencapai pusat kota dan 20 menit untuk bisa sampai di kampus tempat saya belajar. Pada minggu kedua saya mulai berani mencoba bus untuk mengeksplor sisi kota lainnya. Bus pertama yang saya naiki adalah dari Carrefour menuju homestay. Saat itu saya berangkat jalan kaki dari pusat kota menuju carrefour bersama seorang kawan dari mesir bernama George. Ia meyakinkan saya bahwa carrefour bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Dan dengan ke innocent-an saya, saya pun menurut, belakangan saya tau bahwa ternyata George juga belum pernah kesana. Dan jarak yang ditempuh dari pusat kota ke carrefour adalah ENAM PULUH MENIT. Pesan moral dari perjalanan itu adalah, jangan mudah percaya pada orang mesir, apalagi jika ia berkata bahwa pyramid bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari Indonesia.

Sepulang dari carrefour, saya memperhatikan struk yang tadi diberikan oleh pak supir. Bentuknya seperti struk ATM, yang bertuliskan tanggal dan masa berlaku struk itu. Entah jin casper apa yang sedang merasuki fikiran saya saat itu hingga membuat saya berfikir jahil untuk menggunakan struk itu di keesokan harinya, dan hari berikutnya, dan hari berikutnya. (jangan sekali-kali anda mencoba hal ini jika anda tidak punya keberanian dan uang denda yang cukup jika suatu saat kepergok petugas).

Maka bermodalkan senyum termanis yang saya punya, dan sapaan Bonjour yang ramah ke pak supir sambil memperlihatkan sekilas struk yang tanggal nya saya tutupi pake jari telunjuk, jadilah saya layaknya seekor tupai yang naik turun di bus dengan lincahnya, tanpa orang lain tau bahwa saya telah mencurangi sistem transportasi di perancis selama berhari-hari.

Read More..

Wednesday, May 12, 2010

24 Jam di Brussels

Mengunjungi negara Belgia adalah sebuah ide yang muncul ketika aku melihat peta Eropa, beberapa saat sebelum aku berangkat ke Perancis. Negara ini hanya berjarak 2 jam dari Paris dengan menggunakan transportasi kereta cepat. Bahasa yang digunakan adalah bahasa perancis. Hanya Belgia lah satu-satunya negara di Eropa yang menggunakan bahasa perancis selain negara perancis itu sendiri. Brussels adalah ibukota negara ini, sekaligus juga ibukota Eropa dimana di kota inilah terletak pusat pemerintahan Perserikatan Eropa. Negara yang terkenal dengan coklat dan Tintin, ini nampaknya memang layak untuk dikunjungi.



Dengan kereta api Thalys, tanggal 18 agustus 2009 pukul 8.55am aku berangkat dari Paris menuju Brussels. Setiba di Gare Centrale, aku lalu membeli satu tiket metro day pass untuk berkeliling seharian dan satu tiket one way untuk kupergunakan keesokan harinya. Setelah itu langsung menuju hostel Jaques Brel. Perjalanan ke hostel ini ternyata tak semulus dugaanku, berbeda dengan pengalaman dengan hostel di paris. Bekal bahasa perancisku yang pas-pasan ditambah dengan instruksi dari beberapa orang penduduk setempat yang (maaf) sok tau, memperburuk perjalananku dalam mencari hostel yang sudah kureservasi dari jauh-jauh hari ini. Selama kurang lebih dua jam berkeliling kota dengan sekali naik metro, sekali naik tram, dua kali naik bus, dan berjalan kaki yang lumayan bikin pegel, akhirnya kutemukan juga hostel itu. Dan ternyata letaknya tak jauh dari stasiun metro tempat pertama kali aku tiba. Ya, pada saat traveling kebodohan anda memang bisa saja tiba-tiba tampak dengan jelasnya.

Hanya lima menit berada didalamnya aku sudah bisa menilai bahwa hostel ini jauh lebih baik dari hostel tempatku menginap di Paris. Dari segi pelayanan, fasilitas dan suasana. Padahal tarif keduanya tak berbeda. Selesai menaruh backpack dan mandi, aku kemudian menuju ke pusat kota untuk mengunjungi land mark negara itu, diantaranya adalah La Maison du Roi, Hotel de Ville, dan Grand Place yang ketiganya berada di kompleks yang sama. Anda akan disuguhi nuansa gothic dan sedikit perasaan magis ketika berada diantara gedung-gudung ini. Ada juga ikon kota, berupa patung anak kecil yang tak henti-hentinya pipis dari tahun 1619 hingga sekarang. Kasian patung itu, ia pasti sedang mengalami penyakit saluran kandung kemih yang sangat parah. Namanya Manneken Pis. Lucunya ia menggunakan kostum khas dari negara di seluruh dunia, ia memiliki koleksi sebanyak lebih dari 650 pasang yang bisa diliat di Musee de la Ville, tak jauh dari tempatnya pipis. Ada kostum khas suku Inuit, hingga kostum Elvis presley. Aku cukup beruntung ketika itu ia sedang menggunakan kostum daerah Riau, mungkin karena menghormati hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh sehari sebelumnya.







Sebelum mengunjungi tempat tersebut, aku menyempatkan diri masuk ke salah satu kedai makan yang menjual menu-menu khas arab, menu yang kupilih adalah kebab, menu yang menjadi langgananku sejak aku menginjakkan kaki di Eropa. Tak lupa pula aku membeli beberapa oleh-oleh khas belgia, yang tak lain dan tak bukan adalah coklat. Kata orang, coklat belgia adalah salah satu coklat terbaik di dunia, tapi ketika aku mencoba merasakan salah satu produk coklat terkenalnya, bagi ku tak ada bedanya rasa coklat itu dengan coklat-coklat produksi indonesia. Entah mungkin memang benar adanya atau lidah ini yang perlu di ‘sekolahkan’ supaya bisa membedakan coklat kualitas dunia dan coklat kualitas lokal.

Lelah mengitari kompleks Grand Place, aku lalu mengunjungi Musee de la Ville, kebetulan ada harga khusus untuk pengunjung yang memiliki kartu pelajar. Pada dasarnya tujuan utama mengunjungi museum ini adalah karna kebelet pipis, dari pada nyari toilet umum mendingan masuk ke museum, yang sudah pasti ada toiletnya, lagi pula toilet umum juga biasanya bayar.

Berbicara tentang museum di Eropa, jangan harap anda bisa mendapatkan debu, bau apek tak sedap dan hal-hal tak menyenangkan lainnya yang biasa kita temui di beberapa museum di Indonesia. Pengelolaan benda-benda seni dan bersejarah yang sangat baik dan didukung oleh teknologi yang sangat maju membuat di Museum di Eropa menjadi sangat layak untuk dikunjungi meski harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Entah kapan museum-museum di Indonesia bisa seperti itu.

Kembali ke hostel di sore hari, aku langsung menuju dapur umumnya, dan memasak mie instan yang tadi kubeli di supermarket dekat stasiun metro. Aku sempat berkenalan dengan penghuni lain yaitu sepasang suami istri dari inggris yang kebetulan juga sedang menikmati makan malamnya. Mereka sangat ramah dan terbuka, kami sempat bertukar fikiran tentang pendidikan di negeri masing-masing karena ternyata kami memiliki profesi yang sama yaitu pengajar. Sebuah percakapan yang sangat menyenangkan dan menginspirasi bagiku.

Selesai makan malam, aku lalu berniat beristirahat di kamar, tapi perkenalan dengan Cynthia dan Kate, teman sekamarku, membuat rencana istirahatku gagal total. Hanya dengan perkenalan singkat, kami bertiga yang baru bertemu satu sama lain satu jam sebelumnya lalu memutuskan untuk menghabiskan malam mengitari pusat kota Brussels bersama-sama. Kami menuju Grand Palace, menikmati video mapping yang spektakuler di dinding-dinding La Maison du Roi, mencoba waffel coklat, berjalan kaki menikmati suasana malam kota Brussels hingga pulang tengah malam. Perjalanan yang sangat berkesan, teman baru yang menyenangkan, kota yang ramah, menjadikannya sebuah momen yang tak terlupakan seumur hidup.



Read More..

Friday, March 06, 2009

Posto (Postingan poto)

Kalo ada yang bertanya-tanya kemana saja saya selama ini, kok ga pernah posting (kayanya ga ada yang nanya deh ya ...) maka foto-foto dibawah ini mungkin bisa bercerita sedikit.

Yang di tengah itu bukan badut....sekali lagi saya tekankan bahwa yang di tengah itu BUKAN BADUT... (btw ternyata badut harus di sawer yak?.....baru tau...hehehe)


Kalo lewat daerah sini, 'hawa' Jakartanya berasa banget.....


Watch out guys....imoetzilla is gonna crush it!


Laura, 25, Journalist, Australian. She and I only have one thing in common. We both love Airasia.


Ga peduli capek, ngantuk, dingin, sekali narsis tetep aja narsis.... :)

Well, sekianlah laporan dari orang udik yang masih berasa excited meskipun dah beberapa kali dateng ke Jakarta...not to mention the Nasi Uduk yang available di mana-mana...I miss it...huhuhu....
Read More..

Friday, July 20, 2007

Oleh-oleh dari Makassar (The End)

Kalo postingan kemarin tentang 3 in 1, sekarang tentang jaket baru.

Kemaren tuh dah bawa jaket yang warna biru ke mks. Tapi seminggu di mks, aku ngerasa tu jaket kok agak sempit ya? Akunya yang tambah gemuk ato jaketnya yang mengecil, ga tau deh. Yang jelas tu jaket jadi ga nyaman di pake.
So waktu jalan sama Tesha ke Mall Panakukang, sempat nyari jaket, dapetnya yang warna merah hitam, Tadinya mo ngambil yang warna biru, tapi kata tesha, masa mo ngambil yang biru lagi? Kan dah punya. Bener juga sih. Sengaja aku ambil ukuran yang agak gedean dikit, untuk mengantisipasi sapa tau ntar kekecilan lagi..hehehe.

Namanya barang baru, pengennya dipake terus, jadi kalo ke tempat yang agak jauhan dikit, tu jaket pasti ku pake ato paling ga bawa di tas. Kaya waktu ke pulau Lae-lae. Wuih kalo ingat waktu itu, seru banget lo, rame, dari orang tua, remaja, abg, anak kecil sampe bayi semua ada. Kalo ga salah mungkin sekitar 40an orang bahkan lebih. Kalo masalah jalan-jalan gitu, penghuni kompleks sekitar kosan ku emang pada kompak. Yang penting 4 hari sebelum acara, sudah woro-woro ke tetangga sekitar, jadi mereka dah bisa buat persiapan.

(Gimana ga rusuh kalo gitu? Hehehe... semuanya pada mo kebagian di foto..Miss u guys!)


Sempet juga jalan-jalan ke bendungan Bili-Bili. Ceritanya tuh si Fitri (my roommate) dah 2 tahun di mks tapi ga pernah ke bendungan, dia kan asli Kolaka, trus neneknya tuh dah wanti-wanti, katanya kalo ke mks jangan lupa ke bendungan, makanya fitri tuh pengen banget sebelum pulkam liburan semester nanti, bisa foto-foto di bendungan, untuk oleh-oleh neneknya (ada-ada aja deh fitri). So pas ada waktu & motor lowong, aku bareng fitri ke sono. Sempat mampir ke rumah tante-tante ku, kan dekat banget dari situ.

(Tuh beton jangan di bawa pulang ya fit...hehehe...)

(Still with the new jacket...btw tu pipi ato bakpao ya? Hehehe....)


Oya tu pas di feri Titian Nusantara bareng mba Mia (temen sekantor). Kebetulan dia juga liburan ke mks & toraja bareng temen-temennya. Tapi cuma semingguan doang. Trus pas mo balik ke bpp, aku ikut bareng rombongannya. Lumayan seru juga, dah lama ga ngerasain naik kapal laut. Foto itu waktu kita abis sholat subuh di mushola, kita ga langsung balik ke cabin, tapi duduk-duduk di dek yang paling atas, sambil nungguin sunrise, sambil ngobrol & curhat segala, thanks mba, ur inspiring me.

What a nice holiday I had. Makasih buat semua teman-teman di Gunsar especially Tesha & Fitri (ur trully my sweet sisters). Buat Pak Malik sekeluarga. Buat Kak Kholil, Acho, Furqon, (kritikannya membuat aku sadar, that you really care about me. AJKH). Santi, K Dili, Dila Cs. (See ya next time). Temen-temen di ELC Mks, especially Mam Wati, thanks for giving me the chance working there. Keluarga di Mks, kapan ki semua ke bpp? Kutunggu na!
Buat keluarga di Sidrap (yang di Marawi, Simpo, Baranti, Kadidi, Bulo) maaf saya ga sempat ke sana, keburu dapat kerjaan di mks, keburu dipanggil pulang. Semoga bisa bertemu lagi di lain waktu...Amin.
Read More..

Thursday, July 12, 2007

Oleh-oleh dari Makassar (Part 1)

Bukan markisa, baju toraja ato kupu-kupu bantimurung yang bisa aku bawa untuk oleh-oleh, tapi hanya cerita dan beberapa foto-foto cantik (ya ia lah, ini kan blog, plis deh ) yang sekiranya bisa mengenang kembali masa-masa indah (ceileee) semasa di mks.

Tepat 2 bulan lamanya kujejakkan kakiku (lagi) di kota itu, semenjak 3 tahun lalu kutinggalkan. 2 bulan yang berkesan, dan rasanya tidak cukup untuk mengenang kembali masa-masa indah selama kuliah dulu.


Rencananya tuh, paling lama cuma 2 minggu doang jalan-jalan ke mks. Eeee karna satu dan lain hal (jalan-jalan, nginep tempat sodara & teman, shopping, malah sempat kerja freelance segala) rencana 2 minggu jadi 2 bulan, itupun tadinya dah mo settle di mks seandainya mom di bpp ga sakit dan aku di panggil pulang.


But its ok, banyak pengalaman, hikmah dan pelajaran berharga yang kurasa dan kudapatkan selama aku di sana. The Almighty had His own way to show me how beautiful my life is.


Hari-hari pertama tiba si mks sudah kuceritakan di posting sebelumnya. Sekarang aku mo cerita tentang 3 in 1 (Baca: tri in wan) bukan tentang 1 mobil bertiga kaya di jkt itu, tapi tentang hangout di 3 tempat dalam 1 malam. Seru dan pastinya kenyang banget.


Tanggal 13 Mei 2007, Muda/i Jokamers Mks Utara bikin bazaar, trus katanya ada nonton bareng plus door prize segala gitu. Dikupon sih acaranya mulai ba’da Ashar, tapi pas kita (Aku, Wana, Tesha dan Kak Bety) kesana sesuai jadwal, ternyata panitia belum siap. So kita nunggu sampe maghrib (untung acaranya dekat mesjid). Abis maghrib temen-temen yang lain baru dateng, asli rame banget. Tadinya sih aku cuma minum jus alpukat doang, trus pas liat temen makan mie pangsit, jadi kepengen juga. Slese makan, kita sempat foto-foto bareng.




(ki-ka: Abie, Me, Tesha, Fitri, Wana)



(Plus Eman & Dila)

Tau ga ada yang lucu dari foto ini, pas aku liat hasilnya di komputer, aku sempat kaget, kok ada Eman (baju hitam) disampingku? Perasaan waktu di foto, ga ada orang duduk di sebelah kananku, dan sekilas terlihat siku kami bersentuhan, padahal ngga lo. Hiiii si eman penampakan tuh...takut....


Sekitar jam sembilan, dah puas makan dan foto-foto, kita pulang. Aku boncengan sama tesha, rencananya sih ga langsung pulang, tapi mo ke losari dulu, kebetulan di tengah jalan, ketemu sama Jum dan Dila (temen se kos), ternyata mereka mo ke losari juga, trus ketemu lagi sama Acho & the Gank. Jadilah kita ber-8 hangout bareng di Sentosa.


Karena masih kenyang, aku cuma minum jus alpukat. Rasanya lebih enak & lebih murah dari yang di bazaar tadi, temen yang lain juga cuma pada pesan minuman. Pas lagi ngobrol, dila nyeletuk, katanya 3 tahun lalu sebelum aku ke bpp, aku sempat janji sama anak-anak kalo aku bakalan traktir mereka di McD kalo aku ke mks lagi (heran deh dila kok masih inget ya? Padahal aku dah lupa tuh) Whuaa yang lain pada ngomporin, tadinya sih aku ga mau, soale waktu itu sudah jam 10, McD pasti dah tutup. Tapi emang dasar nasib, ternyata di mall ratu, McD tuh buka 24 jam. Terpaksa mampir di ATM deh. Tapi sebelum ke McD, kita sempat foto-foto lagi (emang dasar banci kamera).



Sampe di McD dah jam 11an. Sepi banget, waktu kita masuk, cuma ada 2 pelanggan. Kesempatan ini ga di buang sia-sia sama para midnight model.







Pas ke counter, Yo2 bilang ke mbak McD sambil bisik-bisik, 'Mbak, kita mau paket yang paling murah ya...masih ada kan?' hehe ngerti aja kalo di traktir. Btw aku baru kenal sama Yo2, eman & ijonk ya pas di sentosa itu, kalo acho si dah dari dulu, dia kan anaknya bapak kos ku. Trus besoknya aku baru tau kalo ternyata Eman tuh anaknya Pak Haryanto, dosen PA ku waktu kuliah dulu. Dunia beneran sempit ya...Lagian Pak Haryanto kok gak ngomong-ngomong sih punya anak cakep? Hehe...Peace pak!

MINIGHT RENDEZVOUZ PALS

(ki-ka: Yo2, Ijonk, Eman, Acho)


(ki-ka: Me, Jum, Dila, Tesha)
Liat tuh matanya dila dah 5 watt. Hehe, dah ngantuk ya dil? Pulang yuk... :)

Pulang ke kos jam 12an. Perut dah serasa karung goni. Well, tapi lumayan seru lah. Something gud 2 remember. AJKH ya temen-temen, titip salam buat IM3 yang lain. C u when I c u.



Read More..

Saturday, June 02, 2007

Baba Kuli, Bahasa Inggris dan Khotbah Jumat

Salah seorang kerabat yang sekaligus menjadi role model ku adalah Baba Kuli, aku ga tahu nama aslinya, tapi begitulah beliau dipanggil diantara para kerabat lainnya. Beliau berumur sekitar 65 tahunan, meskipun demikian, pensiunan pegawai PKG (Pabrik Kertas Gowa) itu masih energik, bersemangat dan satu hal yang sangat aku kagumi darinya adalah keinginannya untuk terus belajar, terutama bahasa inggris. Semasa aku kuliah dulu, setiap kali aku bertemu dengannya, ia selalu bertanya tentang kosakata bahasa inggris. Pernah suatu kali aku diberikan list kata-kata bahasa indonesia sebanyak dua lembar folio bergaris untuk di translate ke bahasa inggris. Kata-katanya antara lain: dari mana, silahkan masuk, silahkan duduk, mau minum apa, dll. Ketika kutanyakan tentang kata-kata itu, ia berkata (accent makassar) "Mau ka hapal ki, sempat ada turis datang ke lingkungan sini, mau ka ajak ki kerumah" aku hanya tersenyum mendengar penjelasannya. Yah, demi menyenangkan beliau, meskipun tangan pegel, ku tulis lah arti kata-kata itu.

Sekitar dua minggu lalu, aku bertemu dengannya. Saat itu aku berada di pekarangan belakang rumah om ku, berbaring diatas hammock (jaring/net yang kedua ujungnya di ikat pada dua buah pohon). Tak butuh waktu lama untuk terlelap ketika sudah berada di atas net.

Aku baru saja akan memejamkan mataku ketika kulihat Baba Kuli berjalan kearahku.

Baba Kuli : Indra, kapan ko datang dari Balikpapan?
Aku :Minggu lalu baba
Baba Kuli : Selesai mi kuliahmu di’?
Aku : Iye’
Baba Kuli : Berapa lama mo ko di Balikpapan?
Aku : 3 tahun mi.
Baba Kuli : We....lama mi di? Tidak terasa. Jadi dimana ko kerja?
Aku : Mengajar ka’ di lembaga pendidikan bahasa inggris di Balikpapan
Baba Kuli : Ada yang mo ku tanyakang ko, tapi kulupai. Nanti pi di’?
Aku : Iye’ masih ada ja itu disini sampai besok.
Baba Kuli : Ooo ia, Indra..... ada khotbah jumat di rumah, ko artikan mi ke bahasa inggris na!
Aku :*gubrak*
Read More..

take me to the beach of Your soul


Yup, title diatas adalah kalimat favorite ku semenjak kelas 2 SMA. Entah mengapa kata-kata itu bisa muncul di benakku saat itu, aku lupa, yang jelas pertama kali aku menulis kalimat itu, pada dinding kamarku, tepat diatas tempat tidurku, kemudian aku sering menulisnya di halaman pertama setiap buku atau cover kaset yang aku beli.

Silahkan mengartikan sendiri maknanya! Adalah jawabanku bila teman-temanku menanyakan arti dari kalimat itu. Aku hanya ingin menikmati sendiri arti kata-kata dari kalimat itu, tak ingin berbagi atau sekedar menjelaskan. Egois? Who cares....

Bicara tentang the beach, (note: bukan the beach-nya Leonardo Di Caprio) hidupku takkan berwarna tanpanya. Akses ke pantai sangat mudah dari rumahku yang dulu (sebelum pindah ke rumah yang sekarang), hanya sekitar 2 menit berjalan kaki atau 1 menit jika berlari. Pernah menonton film Mengejar Matahari? Aku semasa kecil sering memainkan permainan itu, bedanya, kalo Udjo dan ketiga kawannya saling berlomba 'mengejar matahari' aku dan kawan-kawanku berlomba untuk 'mengejar pantai' siapapun yang pertama kali dapat menyentuh air laut, dialah pemenangnya. Mengingat aku adalah anak yang paling imut (note: aku lebih suka menggunakan kata 'imut' daripada 'kecil') diantara teman-temanku, tak bakat lari pula, so aku ga pernah menang...hehehe.

SD ku juga letaknya tak jauh dari pantai, terkadang aku bersama temanku yang tinggal berdekatan, pulang dari sekolah menuju rumah dengan menyusuri pantai, tidak melalui jalan raya, kami menyebutnya dengan istilah 'pulang lewat belakang.' Ibuku selalu memarahiku bila mendapati sepatuku penuh dengan pasir sepulang sekolah. Walaupun demikian tak mengurungkan keinginanku untuk pulang lewat belakang, triknya, sepatu taro di tas, ntar kalo dah mo nyampe rumah, sepatunya di pake lagi...hehehehe. Tapi tetap aja ketahuan kalo aku pulang lewat belakang, karena sampe rumah pasti telat. Pernah suatu hari karena aku terlalu asik bermain di pantai sepulang sekolah, ibuku lantas mencariku ke tepi pantai. Tiba di rumah trus dicubit sampe biru, wih perih euy.

Saat itu, hanya ada satu larangan ibuku yang tak pernah ku langgar, berenang di pantai. Tak heran diantara teman-temanku, cuma aku sendiri yang ga bisa renang. Aku hanya bisa menonton dari jauh bila temanku berenang atau sekadar bermain air di bagian pantai yang terdangkal...hiks..hiks.
Tapi semua terbayar ketika masa kuliah, hehehe, kebetulan teman-teman se kos juga senang ke pantai, kami sering weekend ke pantai ato kalo sudah bosan ke pantai, kami lantas pergi ke air terjun Bantimurung, yang jelas ga jauh-jauh dari air lah. So, sekarang dah bisa berenang, Elsa Manora Nasution? Lewaaat...lewat depan rumahnya maksudku.....hehehe....

Tanggal 17 Mei lalu aku bersama teman-temanku di Makassar berekreasi ke pulau Lae-lae, naik kapal sekitar 10 menit dari pelabuhan. Berangkat dari jam 9 pagi, pulang jam 5.30 sore. Asli puas, seneng dan enjoy banget, sampe lupa sama utang-utang yang sudah di bayar..hehehe..Oleh-olehnya ya foto diatas itu, ku ambil waktu di dermaga, nunggu kapal yang akan memberangkatkan kami kembali ke Makassar. See...my life is still beautiful...
Read More..

Monday, May 07, 2007

A Fine weekend in Mks



Here are brief notes about my last weekend, I'll write down the further story next time.

Sabtu, 5 may 2007
1 pm= tiba di Hasanuddin Airport, di jemput santi.
7.30 pm= ke warnet deket rumah santi, mo ke kosan tp lagi ujan.


Minggu, 6 may 2007

05.30 am= Jemput k dili (santi's boyfriend) trus ke losari

06.30 am= Makan bubur sambil telpon Malik (bikin dia sirik)

06.50 am= Ke Benteng Rotredam, (tulisannya bener ga ya? dah lupa) diajakin sm k dili, katanya foto2 di situ bagus.

08.30 am= Ke rumah k dili, trus ke rumah santi.

12.30 pm= Diajakin santi nonton spiderman 3 di 21 Mall Ratu

01.00 pm= Makan D'crepes sambil nunggu filmnya main
04.15 pm= Ke kampus, ngeliatin ade2 Flamers latian untuk pentas "Perkawinan" bulan july nanti.

06.00 pm= Ke kosan lewat
lobang tikus blakang kampus, tapi ga bisa soale pintunya dah dikunci. Pas ke depan ternyata santi blum pulang, mobilnya nyenggol motor yang lagi diparkir, trus pedal motornya patah gitu.
06.15 pm= Ke rumah santi.
Read More..